Dipimpin BYAN, Saham-Saham Emiten Batubara Kakap Melompat

News • 24 July 2023 • 16:28 WIB

Penulis : Parluhutan Situmorang

Kenaikan harga batubara kini semakin meroket ditengah konflik Rusia-Ukraina


JAKARTA, Investor.id – Harga saham emiten batu bara menggeliat sepanjang hari ini, Senin (24/7/2023). Penguatan saham sektor ini berimbas terhadap penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia.
 

Berdasarkan data, penguatan tertinggi melanda seluruh saham emiten batu bara papan atas, yaitu saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) naik Rp 925 (4,94%) menjadi Rp 19.650, PT Indo
Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp 1.225 (4,58%) menjadi Rp 28.000, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) naik Rp 900 (3,67%) menjadi Rp 25.400.
Penguatan juga melanda saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) naik Rp 50 (2,07%) menjadi Rp 2.470, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat Rp 90 (3,23%) menjadi Rp 2.880, dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menguat Rp 5 (0,51%) menjadi Rp 990.
 

Penguatan harga saham batu bara tersebut didukung atas lompatan harga jual batu bara pekan lalu hingga 6%. Berkat gelombang panas yang meningkatkan permintaan energi di Asia, Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan pergerakan harga batu bara Newcastle berbasis penutupan mingguan periode 14 Juli 2023 dengan 21 Juli 2023, harga batu bara pada pekan lalu menguat hingga 6%.
 

Harga batu bara Newcastle untuk kontrak berjangka Juli 2023 naik US$ 1,02 (1,02%) menjadi US$ 133 per ton. Kontrak berjangka Agustus 2023 meningkat US$ 8,7 (6,55%) menjadi US$ 141,75 per ton. Sedangkan kontrak berjangka September 2023 menguat US$ 9,35 (6,99%) menjadi US$ 143,05 per ton.
 

Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, ada potensi koreksi untuk harga batu bara pekan ini. Sentimen yang mempengaruhi adalah sinyal kenaikan di komoditas gas alam yang diharapkan dapat mendorong permintaan ke komoditas batu bara.
 

“Harga batu bara diperkirakan akan bergerak pada level resistance US$ 140 – 150 per ton. Jika menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju level support di kisaran harga US$ 120 – 110 per ton,” ungkapnya kepada Investor Daily, belum lama ini.
 

Editor: Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Related Articles