| 12/16/2008 - Bayan-Leighton Perpanjang Kontrak US$ 2,3 Miliar |
|
Jakarta – PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melalui anak usahanya, PT Wahana Baratama Mining, memperpanjang kontrak kerja sama pertambangan (KKP) senilai US$ 2,3 miliar dengan PT Leighton Contractors Indonesia.
Sekretaris Perusahaan Bayan Resources Jeanny Quantero mengungkapkan dengan adanya perpanjangan kontrak tersebut, nilai kontrak Wahana Baratama dengan Leighton kini mencapai US$ 3,1 miliar. “Sebelumnya, kontrak dengan Leighton hanya sekitar US$ 800 juta untuk enam tahun,” kata Jeanny kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (15/12). Menurut dia , Bayan Resources menjalin kontrak jangka waktu enam tahun dengan Leighton sejak 3 Agustus 2007. dengan perpanjangan hingga 10 tahun, kontrak baru berakhir hingga 2017. dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily disebutkan, perpanjangan kontrak tersebut dilakukan melalui penandatanganan amendmen kedua, baru-baru ini. Presiden Direktur Bayan Eddie Chin menjelaskan, amendemen kedua kontrak itu meliputi pekerjaan pertambangan batubara dan barang tambang ikutannya (overburden removal). Kontrak itu juga meliputi pengangkutan batubara dari lokasi pertambangan ke fasilitas mesin penghancur penghubung batubara (intermediate crushing) milik Wahana Baratama. Perpanjangan kontrak tersebut, menurut Eddie Chin, dilakukan karena produksi batubara perseroan diperkirakan mencapai puncaknya sekitar 9 juta ton pertahun. “ kami berharap hubungan kerja yang baik dan aman selam aini memberikan nilai positif terhadap semua kegiatan di masa depan dan pertumbuhan produksi perseroan,” tutur Eddie. Wahana Baratama merupakan anak usaha Bayan yang bergerak dibidang usaha pertambangan batubara. Perseroan memegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) generasi ketiga di Kalimantan Selatan. Saat ini Wahana Baratama memiliki areakonsesi seluas tptal 7.811 hektare. Jeanne Quantero pernah mengungkapkan, Bayan menunda rencana akuisisi tambang batubara yang semula ditargetkan terlaksana tahun ini. Penundaan itu disebabkan perseroan belum menemukan tambang batubara yang sesuai. Akuisisi tambang di Kalimntan Timur itu diperkirakan bernilai US$ 10 juta. Jeanny juga memperkirakan target kinerja perseroan pad akhir 2008 tidak tercapai, karena kondisi cuaca kurang mendukung dan harga jual batubara turun. Bayan Resources pernah menargetkan total produksi batubara dan penjualan pada 2008 sebanyak 9 juta ton. Dengan demikian, pendapatan perseroan pada akhir 2008 ditargetkan US$ 700 juta, sedangkan laba bersih mencapai US$ 100 juta. Harga Saham Murah Pengamat pasar modal Denny Winaldi mengatakan, prospek Bayan Resources tetap bagus. Apalagi harga saham BYAN, senin (15/12), ditutup pada level 950, jauh di bawah harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp. 5.800. “Jadi, harga harga saham Bayan sekarang sangat murah,” ujarnya. Menurut Dia, perpanjangan kontrak dengan Leighton bakal mendongkrak fundamental Bayan. Soalnya, perpanjangan kontrak akan meningkatkan produksi perseroan. “Prospek industri batubarajuga masih menjanjikan, seiring prospek meningkatnya kembali harga minyak mentah dunia” kata Denny yang menargetkan harga saham BYAN mencapai level Rp. 1.500-2.000 pada akhir 2008. Source : Investor Daily, by Deviana Chuo |