| 09/28/2009 - BYAN cari pinjaman sebesar US$ 150 Juta |
|
JAKARTA. PT Bayan resources Tbk tengah mengupayakan pinjaman sebesar US$ 150 juta untuk mengembangkan proyek briket batubaranya. Untuk memuluskan rencana tersebut, emiten bersandi BYAN ini telah menunjuk Standard Chartered Bank sebagai penasehat financial.
BYAN saat ini memiliki proyek pengolahan briket batubara dengan menggandeng White Energy Ltd, perusahaan specialis pengaloahan briket batubara asal Australia. Mereka berdua membentuk perusahaan patungan yang bernama PT Kaltim Supacoal. Kerjasama dengan White Energy bertujuan memberikan nilai tambah bagi batubara produksi Kaltim Supacoal. Maklum, nilai kalori batubara mereka saat terbilang rendah. “Hanya sebesar 4.000 kilo kalori (kkal) per kilogram,” terang Jenny Quantero, Sekretaris Perusahaan BYAN, kemarin (17/9). Jenny mengatakan, bila diolah, nilai kalori bisa meningkat menjadi 6.000 kkal per kg. Selain itu, polusi yang dihasilkanpun tidak sebesar batubara biasa, Kaltim Supacoal yang berlokasi di wilayah Tabang Kalimantan Timur itu merencanakan produksi lima juta ton batubara per tahun. Berdasarkan rencana pengembangan tersebut, jumlah final pinjaman yang mereka butuhkan minimum US$ 150 juta. Dana pinjaman tersebut akan mereka gunakan untuk membangun pabrik pengolahan briket di Tabang. Saat ini, PT Kaltim Supacoal sudah memiliki satu pabrik pengolahan briket batubara bernilai US$ 68 juta yang baru saja selesai dibangun. Pabrik itu memiliki kapasitas produksi sampai satu juta ton per tahun, ” Kalau bisa, sih kami mau menambah empat pabrik lagi,” tutur Jenny. Ini untuk mengantisifasi total produksi Kaltim Supacoal yang ditargetkan mencapai lima juta ton per tahun. Bayan mengaharapkan dana pinjaman tersebut segera mereka peroleh paling lambat kuartal pertama 2010. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham BYAN ditutup di Rp. 5.600 per saham, melemah 2, 61% dari harga penutupan sebelumnya. Yuwono Triatmodjo Source: KONTAN , dated 18 September 2009 |